Selasa, 21 Februari 2012

KEINDAHAN PANTAI PASIR PUTIH PULAU MAHORO

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro adalah salah satu Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kepulauan Sangihe yang berada di Propinsi Sulawesi Utara dan resmi menjadi Kabupaten pada tanggal 23 Mei 2007.

Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro atau yang lebih dikenal dengan SITARO, Berjarak Sekitar 146 km dari Ibukota Provinsi Sulawesi Utara "MANADO" yang terletak antara 2’07’48’’36’’ Lintang Utara dan 125’09’36 – 125’29’24’’ Bujur Timur, Terdiri atas 10 Kecamatan Dengan Luas Wilayah 275,95 km2 dengan Ibukota ONDONG yang berada di Wilayah Kecamatan Siau Barat.
Potensi pariwisata yang ada di Sitaro cukup menjanjikan. Salah satunya adalah pulau yang tidak berpenghuni yaitu Pulau Mahoro yang terletak pada koordinat 2°45' 56" LU 125° 24' 13" BT di kumpulan pulau-pulau kecil dalam kluster Buhias yang merupakan rangkaian beberapa pulau yang seolah tercampakan di lautan yang mengepungnya dan termasuk pada wilayah Kampung Tapile Kecamatan Siau Timur Selatan. Keunikan keindahan alamnya berupa hamparan laut dan terumbu karang yang masih asli dan utuh. Di Pulau ini terdapat sarang burung wallet dan bekas benteng Portugis.
Perjalanan ke Pulau Mahoro dapat dijangkau dengan menggunakan speed boat atau dengan perahu nelayan bermesin katinting. Dengan jarak jangkau ± 9,5 Mil dari pelabuhan Ulu Siau, maka waktu yang ditempuh hanya 15 – 45 menit pada saat laut tidak bergelombang sedangkan jika laut bergelombang waktu yang ditempuh ± 2 jam.

Di bagian barat pulau ini terdapat goa yang menjadi sarang burung walet yang hanya bisa dimasuki pada saat air surut sedangkan pada saat air pasang mulut goa ini tertutup oleh air laut. Pada bagian selatan terdapat bentangan pasir putih nan menawan menambah eksotisnya panorama Pulau Mahoro yang luasnya ± 7 km2 dan hanya dihuni oleh beberapa jenis burung diantaranya burung walet dan maleo juga ada kalelawar yang mendiami tebing-tebing. 


Pulau Mahoro memang sebuah nirwana. Tempat bermanja yang jauh dari kebisingan dan polusi. Disana hanya ada suara angin dan deru ombak. Yang ada hanya nyiur melambai memberi keteduhan dan pasir putih nan halus sebagai tikar alam tempat bermanja. Pulau Mahoro menggoda untuk didatangi kembali. Tapi semoga, dia tidak datangi oleh keserakahan budaya modern manusia. Biarlah Pulau Mahoro dan pulau-pulau “virgin” lainnya tetap menjadi surga dari warisan alam indonesia dan kaya ini. Kita boleh mengeksplorenya, tapi dengan konsep keseimbangan alam.
Kawasan pulau ini layak menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro untuk pengembangan kawasan wisata pantai, lokasi diving, snorkling dan fishing sport dan cocok untuk pembangunan cottage.