TENGKORAK LIANG TEMBO - (MANGINTANGA)

Tengkorak 12 Dotu di Liang Tembo Mangintanga
Tanganga (Mangintanga) merupakan sebuah dusun yang berada di bagian selatan pulau Siau dan masuk dalam wilayah pemerintahan Kampung Tanaki Kecamatan Siau Barat Selatan. Di Dusun ini terdapat sebuah Goa yang oleh penduduk setempat dinamakan Liang Tembo. Goa ini terletak di atas bukit yang tidak seberapa jauh dari pantai.


Berdasarkan penuturan warga setempat bahwa pada jaman dahulu hidup 12 orang dotu atau nenek moyang dan mereka tinggal di anak Kampung Tanaki masing-masing mereka bernama: Bahagia, Bawotong, Takaliuang, Takaapide, Takasenggehang, Talumiu, Anggomang, Katiga, Pontoh, Hengkengunaung (bukan Hengkengunaung Panglima Perang Kerajaan Siau) dan seorang perempuan bernama Dolong Dasi (Wawu Dasi).

Pada waktu itu keadaan daerah-daerah pesisir di wilayah nusa utara tidaklah aman karena penduduk sering dirampok bahkan dibunuh oleh Perompak (Bajak Laut) Mangindano. Hal ini didengar oleh ke 12 dotu yang berada di Mangintanga (Tanganga) dan mereka bersepakat untuk menjaga tempat mereka agar supaya pada saat Perompak Mangindano masuk mereka akan menjemputnya. Menjemput dalam Bahasa Siau adalah "Mangintanga".

Dari kedua belas dotu ini Dolong Dasi (Wawu Dasi) yang paling berani. Dia berperang hanya bersenjatakan sehelai kain halus yang terbuat dari pohon pisang hote. Sehelai kain ini mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sedangkan ke sebelas dotu laki-laki hanya menggunakan tongkat.

Peperangan terjadi dilaut. Perjuangan itu akhirnya dimenangkan oleh kedua belas dotu. Tak lama sesudah itu terjadilah gempa, badai dan terlihat jenazah-jenazah para perompak menyatu dalam satu tempat bernama "Lisua Mangindano" yang sekarang ini dikenal dengan "Laut Pihise". Di tempat ini walaupun cuaca teduh namun di Laut Pihise tetap saja bergelombang.

Kedua belas dotu ini berpesan kepada masyarakat bahwa apabila mereka meninggal dunia jangan dibuatkan peti untuk mengisi jenazah mereka akan tetapi jenazah mereka dimasukkan ke dalam Goa. Kesebelas Dotu laki-laki meninggal dunia karena sakit dan mereka dimakamkan sesuai dengan pesan mereka dan jenazah mereka dimasukkan ke dalam Goa.

Tinggallah Dolong Dasi (Wawu Dasi) yang masih tegar dan bertahan hidup. Karena keperkasaannya Wawu Dasi sangat ditakuti oleh semua orang. Akhirnya tak lama kemudian Wawu Dasi jatuh sakit dan meninggal dan jenazahnya diperlakukan sama dengan kesebelas saudaranya.

Goa yang berisi kedua belas dotu ini dinamakan oleh penduduk sekitar "Liang Tembo" atau "Goa Kepala" karena memang di dalamnya berisi tengkorak-tengkorak kepala dari kedua belas dotu ini.

FOTO-FOTO DI SEKITAR LOKASI
"LIANG TEMBO"